- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
![]() |
| Ilustrasi |
Ketika sedang berkendara di jalan raya , kita kadang suka meremehkan aturan lalu lintas. Misalnya dalam hal menerobos lampu merah , masih banyak pengendra yang nekat menerobos lampu merah alasannya dianggap hal sepele. Meskipun sepele , tapi hal itu justru mampu mendatangkan petaka.
Bagi yang suka mengabaikan aturan lalu lintas , mungkin ksah yang satu ini mampu jadi pelajar buat kita semua. Walaupun fiktif , tapi kisah ini mampu menyadarkan para pengguna kendaraan akan betapa pentingnya menaati aturan lalu lintas.
Dikisahkan ada seorang polantas atau polisi lalu lintas menilang sebuah kendaraan beroda empat yang menerobos lampu merah. Dan ternyata sopir kendaraan beroda empat tersebut ialah mantan kekasih polantas tadi ketika waktu masih SMA.
"Tolong tunjukkan SIM nya! ," kata pak polantas kepada sopir kendaraan beroda empat tersebut.
"Maaf pak , gue tahu gue salah , tapi maaf pak jangan ditilang , gue sedang buru-buru alasannya anak gue ulang tahun hari ini ," kata pengemudi berjulukan Lusi itu kepada pak polantas dengan wajah kesal.
Ketika sedang berbicara , Lusi sadar jika polantas yang menilangnya ternyata ialah mantan pacarnya ketika SMA dulu.
"Lho... bukankah kau Adi? Kita pacaran dulu pas SMA , masih ingat?" tanya Lusi.
Tapi polantas berjulukan Adi itu hanya tersenyum saja dan tetap meminta Lusi untuk menyerahkan SIM nya. Dengan perasaan kecewa , Lusi menawarkan SIM miliknya lalu menutup beling pintu mobilnya rapat-rapat.
Sementara itu , Adi menulis sesuatu di kertas tilangnya. Beberapa ketika kemudian Adi mengetuk beling kendaraan beroda empat Lusi untuk menyerahkan surat tilang tersebut.
Lusi pun membukakan sedikit pintu beling mobilnya lalu mengambil surat tilang tersebut dengan tatapan wajah kesal terhadap Adi.
Tanpa sepatah kata pun , Lusi pribadi melajukan kembali mobilnya dengan tergesa-gesa. Dia kemudian heran kenapa SIM nya dikembalilan ketika membuka kertas tersebut. Karena heran , Lusi kemudian menghentikan mobilnya sejenak untuk membaca isi kertas tersebut.
Kira-kira menyerupai ini isi suratnya:
"Hai Lusi.. Kau tau , dulu gue juga punya anak. Cuma satu-satunya , tapi meninggal karna ditabrak orang yang menerobos lampu merah.
Pengemudinya hanya dihukum 3 tahun. Setelah bebas ia dapat berkumpul dan mampu memeluk anaknya lagi. Sementara gue , gue tidak lagi dapat melihat apalagi memeluk anak saya. Beribu kali gue mencoba untuk memaafkan si pengemudi itu tapi tidak bisa.
Maafkan gue Lusi , hati-hati di jalan. Titip salam buat keluargamu.
Dan selamat ulang tahun buat anakmu!"
Adi ternyata tidak menilang Lusi dan malah menawarkan kembali SIM miliknya. Mendengar dongeng tersebut , Lusi pun terkejut dan merasa bersalah. Dia bergegas kembali ke pos daerah Adi tadi , tapi sayang ia sudah tidak ada lagi.
Lusi pun menyesali kesalahannya dan berharap temannya itu mau memaafkan kesalahannya. Sejak kejadian itu , Lusi jadi pengendara yang taat aturan lalu lintas.
Nah sobat , berguru dari kisah di atas , kita jangan suka menganggap segala sesuatu itu dengan sepele meskipun memang terlihat sepele. Hargai dan patuhi aturan yah sobat!

Komentar
Posting Komentar