- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
![]() |
| Ilustrasi (foto: scind.org) |
Ateis bisa diartikan sebagai paham yang tidak mempercayai akan eksistensi Allah dan agama. Walau di dunia ini ada banyak sekali agama yang berbeda , tapi masih banyak orang yang berpaham ateis. Mengejutkannya lagi , orang ateis kebanyakan dari golongan orang cerdas.
Kecerdasan dianggap dapat dihubungkan dengan agama jikalau seandainya agama hanya dianggap naluri , sementara kecerdasan merupakan kemampuan seseorang untuk melampaui naluri. Maksudnya , orang cerdas kalau mempercayai segala sesuatu itu harus masuk dalam logika mereka , sementara Allah tidak bisa dipikirkan oleh akal.
Dua penulis ternama , Edward Dutton dari Ulster Institute for Social Research di Inggris , dan Dimitri Van der Linden dari Rotterdam University di Belanda , mencoba menguak kekerabatan antara kercerdasan dengan agama dalam sebuah artikel di Evolutionary Psychological Science jurnal Springer.
Mereka mengusulkan wacana Model Asosiasi Ketidakcocokan-Kecerdasan , di mana model ini mencoba menjelaskan kenapa kecerdasan suka berbanding terbalik dengan agama. Model ini diambil berdasarkan data survei terbaru dan bukti sejarah dari aneka macam negara dan juga antarkelompok.
Model tersebut didasarkan pada gagasan Savana-IQ milik psikolog evolusioner Satoshi Kanazawa. Menurut gagas tersebut menjelaskan kalau insan akan selalu berlabuh di lingkungan di mana nenek moyang mereka berkembang.
Dua penulis itu berpendapat kalau agama harus dianggap sebagai suatu naluri atau domain yang berkembang secara terpisah. Sementara kecerdasan dapat membantu insan untuk melampaui naluri mereka. Makara , dengan adanya naluri , insan bisa memecahkan masalah.
"Jika agama ialah domain yang berkembang , maka itu ialah naluri , dan kecerdasan—dalam memecahkan persoalan secara rasional—dapat dipahami sebagai kemampuan mengatasi naluri dan merupakan sifat penasaran yang intelektual. Kemampuan itu dapat membuka kemungkinan non-naluriah’ , terang Dutton.
Dalam ajuan Model Asosiasi mereka , Dutton dan Van der Linden juga menyelidiki kekerabatan antara naluri dan stres. Menurut mereka , naluri insan cenderung beroperasi ketika stres. Dengan menjadi cerdas , insan dapat melampaui naluri mereka selama masa-masa penuh tekanan.
"Jika agama memang sebuah domain yang berkembang layaknya naluri , maka akan semakin tinggi pada dikala stres. Ketika stres , orang cenderung bertindak secara naluriah. Ada bukti terang untuk ini ,” kata Dutton.
"Ini juga berarti bahwa kecerdasan memungkinkan kita untuk dapat berhenti sejenak dari segala situasi dan konsekuensi yang mungkin timbul dari tindakan kita” , imbuhnya.
Para peneliti percaya bahwa orang yang tertarik pada hal-hal diluar naluri berpotensi menjadi problem solver yang lebih baik.
"Ini penting. Dalam ekologi yang berubah , kemampuan memecahkan persoalan akan dikaitkan dengan meningkatnya naluri kita. Hal itu membuat kita tertarik pada ketidakcocokan evolusioner ," tambah van der Linden.
Sumber: National Geographic

Komentar
Posting Komentar